rss

Message BOX here

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Secuil Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Secuil Kisah. Tampilkan semua postingan

06 September 2010

SERIGALA MERAH



 Oleh : Yoni Ahmad

Duarrrrrrr………… Suara tembakan ke langit oleh polisi itu membuat poyang-payingan para demonstran. Seperti seember beras yang jatuh ke jalanan, berceceran tak beraturan. Tak bisa dihindari adanya kejar-kejaran antara polisi dengan mahasiswa-mahasiswa gabungan dari berbagai universitas. Tak kuasa menahan emosinya, beberapa polisi melambungkan pentungan ke tubuh dan kepala para demonstran. Suasana ricuh mewarnai aksi demonstrasi yang menuntut pencalonan Dewan Daerah. Demonstran tak mau kalah, mereka memungut apa saja yang bisa diraih dengan tangannya seraya melemparnya dengan target para polisi bertameng.
“Bersihkan pemerintahan dari kecurangan, hancurkan ketidak jujuran!”
“Tegakkan keadilan…!”
“Bunuh sampai ke akar-akarnya!”
Demonstran menuntut  salah seorang calon yang diduga melakukan ketidak jujuran dalam pemilihan. Mereka menyebut-nyebut nama Hari Bangun sebagai calon yang curang. Namun kecurangan itu sendiri masih rancu kebenarannya. Para demonstran tidak punya bukti maupun saksi. Hanya berdasarkan sumber yang mereka percaya yang mengatakan bahwa Hari Bangun telah curang. Dia memanipulasi data dengan membayar orang untuk memberikan hak suara lebih dari 200 lembar. Selain itu Bangun juga diduga menyalahgunakan uang rakyat. Dihambur-hamburkan untuk sekadar memajang foto-foto wajahnya di sepanjang jalan, pepohonan, kendaraan umum, bahkan di toilet.
Tak lama proses kejar-kejaran, akhirnya kemenangan diperoleh pihak polisi yang jelas menang dalam jumlah dan persenjataan. Puluhan mahasiswa diamankan dan beberapa diantaranya yang dianggap provokator di bawa masuk ke dalam ruang interogasi.
“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya salah satu polisi.
“Kami berjuang atas nama keadilan!” jawab Ratno, salah satu aktivis dari universitas terkemuka di Semarang.
“Kenapa kalian membuat ricuh?”
“Kami hanya ingin suara kami didengar, kami ingin menemukan kebenaran.” jawab budi, mahasiswa universitas lain.
“Kalian tahu kesalahan kalian?”
“Kami tidak tahu, karena kami tidak salah!”
“Kalian berteriak, kalian membuat kericuhan, membuat keonaran. Menambah kerjaan tim keamanan saja. Masih banyak hal yang lebih penting yang harus kami tangani. Tahukah kalian, dengan kalian berteriak, berseru, membuat kericuhan, apa kamu yakin suara kamu itu akan didengar? Apa kamu yakin suara kamu itu sampai ke tujuannya. Itu hanya seperti kentut, menusuk di depan yang kemudian hilang dengan cepatnya.”
“Tak didengar tak apa, tak digubris tak masalah. Selama suara kami belum didengar selama itu pula kami akan berteriak. Kami akan tetap berjuang, setidaknya kamu sudah berusaha. Memang banyak hal yang lebih penting yang harus ditangani tim keamanan. Kalau begitu kenapa anda-anda membawa kami kesini. Lebih cerdas lagi jika kamu menangkap orang-orang yang melakukan kecurangan. Kalian menjalankan tugas, kamipun tak akan lagi berteriak.”
“Kalian pikir menegakkan hukum semudah ucap kata-kata yang kalian lontarkan apa?”
Hampir sehari semalam 5 mahasiswa yang diduga provokator itu di interogasi dalam ruang gelap tanpa jendela, hanya sedikit angin yang masuk melewati celah ventilasi. Walau sedikit angin itu sudah cukup menyegarkan hati para demonstran dan polisi. Beberapa saat kemudian perdebatan pun mereda. Polisi melepaskan para mahasiswa itu. Memberikan peringatan, juga memberikan syarat dan isyarat.
Ratno Kasmuji adalah salah satu mahasiswa semester akhir yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Namun karena jiwa patriotismenya dia ingin mencari keadilan. Pemuda dengan kulit yang agak hitam, bisa dibilang cukup tinggi dan kekar. Pantas saja dia tidak takut dengan polisi, tubuhnya tidak kalah besar. Ratno dan tim gabungannya yang dibentuk dari berbagai mahasiswa beberapa universitas, kerapkali melakukan diskusi dan rapat mengenai keadaan politik ekonomi negeri ini. Pria yang sering dipanggil Grandong ini ingin menegakkan keadilan bersama timnya.
Sesampainya di kos-kosan, Ratno langsung terkapar di atas kasur. Dengan almamater masih melekat di tubuh, basah keringat membau kesana-kemari. Spanduk dan poster menimbuni kaki dengan celana jinsnya. Sementara di samping bawah kasur tergeletak sosok hitam pekat telanjang dada memakai boxer. Bakri namanya. Dia temen deket dan juga satu tim dengan Ratno. Suara dengkurnya menggertak seperti suara traktor yang sedang membajak lahan tandus, menggelegar. Namun itu juga tak mengganggu ketenangan tidur Si Grandong, Ratno.
Krriiiinnggg……………. Terdengar suara dering handphone Ratno. Handphone jadul dengan antena panjang yang khas itu memang Hp kesayangan Ratno. Bisa dibilang, jangankan suara petir, banjirpun tidak akan membangunkan tidur mereka. Terbiasa ketika capek mereka seperti beruang kutub yang sedang hibernasi. Setelah 15 kali berdering, akhirnya Ratno terbangun dari tidurnya.
“Ayo bangun….., katanya mau bimbingan? Ayo bangun!” suara cewek terdengar dari handphone.
“Haduh…, iya. Jam berapa sekarang?”
“Sudah jam 11 siang. Ayo bangun!”
Suara cewek itu suara Susi, kekasih Ratno. Dia selalu setia menemani dan mencintai Ratno dengan apa adanya. Susi dan Ratno satu keanggotaan dalam organisasi BEM Universitas. Ratni adalah koordinator divisi humas dan advokasi sedang Susi menjabat sebagai bendahara. Meski mereka terjebak cinta lokasi namun mereka tetap bisa profesional. Mereka bisa menempatakan diri dalam situasi dan kondisi yang tepat. Selain itu Ratno juga disegani anggota BEM yang lain karena dia merupakan sosok yang tegas, cerdas juga bijaksana.
Setelah lebih dari setengah jam mengantri mandi akhirnya Ratno dapat giliran juga untuk membersihkan diri. Almamater dan celana sisa demonstrasi kemarin dilemparnya bersama baju-baju kotor lainnya yang sudah menumpuk di ember. Karena mempersiapkan demonstrasi membuatnya tidak sempat untuk sekadar mencuci baju. Baju yang sudah menumpuk dua minggu itu senatiasa menghiasi pokok ruang belakang koskosannya. Dengan menghilangnya suara gemericik air hilang pula keberadaan Ratno. Dia segera beranjak pergi ke kampus.
“Pagi pak, gimana laporan skripsi saya yang kemarin?” tanya Ratno kepada pembimbing I.
“Sudah bagus, sudah sempurna. Kamu langsung saja daftar ujian, tapi konfirmasi dulu ke pembimbing II minta ACC. Skripsi kamu sudah sempurna!.” jawab dosen pembimbing I.
Tanpa berlama-lama dia langsung meluncur ke dosen pembimbing II. Meskipun dosen yang ini terkenal agak sulit tapi dia seorang profesional dan objektif. Menjelang setengah dua belas dia masih mondar-mandir mencari dosbing II. Tak terasa sudah jam istirahat. Ratno terdampar di atas kursi panjang depan ruang jurasan. Dengan nafas yang bertempo tiga perempat itu dia berusaha meredakan kecapekannya. Dengan sedikit menghela nafas panjang dia sudah sedikit merasa lega.
Seketika itu dia terbelalak, kaget, gugup, bercampur takut. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya dari orang yang berjalan dua puluh meter menuju ruang jurusan. Jalannya yang tegap dengan langkah kaki yang teratur. Suara langkah dari sepatu fantovel bersahutan. Seketika berhenti di depan ruang jurusan. Dia salah satu peserta yang mencalonkan diri sebagai dewan daerah. Benar saja yang Ratno lihat itu adalah Hari Bangun, calon yang dia protes tempo hari. Memang ketika di kampus, Ratno kerapkali menghindari pertemuan atau pun perpapasan dengan dosen yang ingin jadi pejabat itu. Tak berapa lama Hari Bangun berdiri di depan pintu ia masuk kedalam. Setelah membuka beberapa lembar helai buku kemudian menutupnya lagi.
“Har, baca nih! Ada berita bagus banget. Mahasiswa melakukan demonstrasi di depan gedung dewan. Dan berakhir ricuh, polisi mengamankan lima mahasiswa yang diduga provokator.” Ucap salah satu teman dosen yang duduk di sebelah bangku Hari Bangun.
Perlahan tapi pasti Hari Bangun mengangkat koran itu kemudian membacanya. Belum selesai membaca judul berita ia terbelalak melototkan matanya. Jelas sekali foto berita yang menjadi headline itu terpampang foto mahasiswa yang ia rasa cukup kenal, Ratno Kasmuji Mahasiswa Jurusan Hukum semester akhir. Belum sempat membaca isi berita, ia melempar koran itu kembali ketas meja. Jidat yang mengkerut dengan jari menempel di kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia tidak melepaskan nama Ratno meski untuk waktu yang sebentar. Bayang-bayang mahasiswa hitam itu selalu mengganggu pikirnya.
“Hemmm…….., Ratno ternyata !” gumamnya dalam hati.
Setelah merasa cukup istirahat dan bebarengan juga dengan jam istirahat yang telah habis, Ratno kembali ingin mencari dosbing II. Tak disangka, tak diduga orang yang dinanti pun tepat sekali datangnya. Ratno mengikuti langkah dosbing II ke ruang kerjanya.
“Gimana Pak, skripsi saya?”
“Bagus, hanya sedikit perlu diperjelas pada bab II dan bab IV. Sisanya sudah bagus. Kamu sudah bisa daftar ujian skripsi!”
“Benarkah Pak? Terima Kasih.”
Dengan riangnya Ratno berjingkrak. Seakan angin segar menerpa jiwanya. Kesejukan yang dirasakannya sungguh tiada terkira. Panas sinar mentari jam satu siang tak dirasakannya, tetap saja ia hanya merasakan angin yang sejuk. Segera saja ia pegergi menemui kekasihnya, Susi. Untuk memberitahukan berita bahagia ini. Diambilnya motornya di parkiran segera menuju kos-kosan Susi.
“Sus, kamu tahu nggak?” tanya Ratno
“Apa sih?” Susi balik nanya.
“Aku sudah bisa daftar ujian, skripsiku sudah rampung!”
“Bagus donk!”
“Iya, tolong bantu aku mempersiapkan segalanya y?”
“Beres Boss!”
Mendengar kabar itu, Susi pun ikut merasa senang. Kekasihnya akhirnya lulus juga. Sehari semalaman mereka sibuk mempersiapkan pendaftaran ujian skripsi. Suara gesekan catridge printer dengan kertas yang berjalan mengikuti roll yang menggulungnya memenuhi kamarnya. Diiringi lagu Pop yang dibawakan oleh Sheila on 7, band favorit Ratno. Serta diselingi suara dengkur si Bakri yang biasa tidur hanya memakai celana boxer.
Keesokannya Ratno sudah siap segalanya. Karena kondisi sekarang sudah fit, ditambah suasana hati yang senang kali ini ia bangun lebih dulu dari mentari timur. Dengan gaya meledek ia memandangi mentari pagi yang kali ini terlambat datang. Setelah puas menikmati segarnya aroma pagi ia segera saja beranjak menuju kampus. Tak lupa menjemput kekasihnya. Ditemani Susi seharian ia mengurus pendaftaran ujian skripsi. Tersentak, tergetak, detak jantung yang awalnya ada seketika terhenti ketika ia mengetahui dosen pengujinya adalan Hari Bangun. Dosen yang ia protes keras, dosen yang menjadi musuh bebuyutannya. Hampir saja dia pingsan. Tetapi dia menghela nafas panjang berusaha menenangkan diri.
“Aku tidak boleh menyerah! Aku harus bisa” gumamnya dalam hati.
Sampai hari yang dinanti pun telah tiba. Dengan diantar sang kekasih yang tercinta, Ratno meyakinkan dirinya untuk bisa mengalahkan semua ini. Perlahan tapi pasti ia memasuki ruang ujian skripsi. Rasa grogi bercampur gugup berputar-putar di dada dan pikirannya. Kali ini yang dia lawan bukanlah seorang calon pejabat yang curang, namun seorang dosen penguji.
Ratno sesekali menatap Hari Bangun. Hari tersenyum ramah. Dengan sikap yang bijak ia melontarkan beberapa pertanyaan ke Ratno. Ratno menanggapinya dengan sigap Ratno menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh dosen-dosen penguji.
“Setelah mengingat dan menimbang laporan skripsi kamu dan prosesi ujian skripsi hari ini maka dengan ini kami menyatakan…”
Seketika suasana menjadi tegang.
“Anda lulus…!”
Bahagia sekali perasaan Ratno saat itu. Tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua panitia ujian skripsi. Keluar dari ruangan ia langsung mendekap Kekasih hatinya dan memeritahukan kabar itu.
***
Setelah merevisi skripsinya, Ratno ingin cepat-cepat mendaftar wisuda. Namun apa yang terjadi, nila skripsinya belum keluar. Beberapa kali ia menemui Hari Bangun. Akan tetapi pertemuan-pertemuan kali ini tidak seperti ketika ujian skripsi. Wajah yang ia pasang adalah wajah kusut dengan seyum yang berat sebelah. Ia baru sadar ternyata seyuman yang saat itu hanya topeng untuk menutupi kebusukan hatinya. Beberapa kali ia mendatangi dosen itu dengan memohon, namun hasilnya tetap nihil. Sungguh orang yang licik. Sungguh pemikiran yang tidak dewasa. Mencampurkan urusan pribadi dengan urusan perkuliahan. Ratno merasakan kesakitan yang mendalam. Orang melakukan ini benar-benar kelewat kejam. Cakarnya membelah dada robek hingga ke dalam perut.
Hari berganti hari, minggu berlalu, bulan pun terlewati tak ada perubahan keputusan dari calon pejabat curang Hari Bangun. Dia masih tetap menahan nilai Ratno. Tak terasa penantiannya sudah dua tahun. Sekali lagi ia berusaha memohon kepada Dosen Hari. Namun seperti hari kemarin ia mengacuhkannya begitu saya. Mentelantarkannya seperti sampah. Akhirnya Ratno Kasmuji, aktivis yang berusaha mencari keadilan membuang harapannya jauh-jauh. Tenggelam dalam keterpurukan. Larut dalam kesedihan.
Saat ini dia hanya punya satu upaya dan satu harapan. Berupaya untuk ikhlas. Berharap semua ini ada yang membalas. Agar seseorang itu juga bisa merasakan rasa sakit.
Selengkapnya...

11 Agustus 2010

Kisah Tentang Sahabat


Masih duduk termenung memandangi sebuah gambar yang sengaja aku simpan di sebuah data traveler 8 Gb. Dari sebuah penyimpanan yang aku kasih nama ‘Tak Biasa’ itu aku sering kali masih merasakan ketidak percayaan akan kejadian yang terjadi padamu. Aku masih merasakan senyumanmu, begitu ceria. Terlihat jelas di gambar ada empat orang yang memakai jaket kuning putih dan seorang lagi memakai pakaian hijau rapi. Benar sekali, foto itu adalah foto waktu kita sedang melakukan Kuliah Kerja Lapangan.


Selengkapnya...

08 Agustus 2010

SORE ITU DI RUMAHMU

Jam 3 sore. Selesai sholat ashar aku kembali kerumahku setelah sejenak aku menghadap ke pangeranku. Mentari sore yang silau mulai memaksaku untuk segera beranjak. Beberapa orang sambil lalu lirik melewat gang depan rumahmu yang sempit. Sementara motorku yang terparkir sudah cukup memenuhi jalan setapak itu. Sedikit angin yang masuk, berhembus melalui celah-celah menerpa ramputmu yang hitam lebat terurai. Membuat aku semakin berat untuk meninggalkanmu. Di lain sisi aku tidak bisa memungkiri bahwa ini adalah akan menjadi perpisahan kita. Air matamu yang sebening embun itu membuat hatiku basah, memenuhi seluruh tubuhku hingga meluap melewat kedua mataku.

Selengkapnya...

26 Juli 2010

Menembus Marka

Semalam tidur jam 3,  kemudian jam 4 aku terbangun tidur lagi dan pindah ketempat yang lebih nyaman. Dalam anganku aku ingin sekali bangun pagi. Rencanaku berhasil, aku terbangun jam setengah sembilan PAGI. ketika ada seorang yang sedang melamar kerja di tempat aku kerja. Aku dengan mata merah, kotoran di kelopak mata, dan aroma mulut yang khas mengetik sebuah lembar biodata kosong untuk diisi oleh calon pelamar. Dia ingin bekerja menjadi teknisi komputer. Memenuhi iklan lowongan kerja yang Mas Bos kirim ke salah satu surat kabar terkemuka. Ada lebih dari 20 orang yang telah mengirimkan Curiculum Vitae dirinya ke email kantorku. Dari 20 hanya 4 yang masuk seleksi wawancara.

Selengkapnya...

25 Juli 2010

Tragedi 'kendhi' berdarah

Aahh..., tak tahu mengapa tiba-tiba kepalaku pusing, sakit sekali. Mungkin karena darah rendahku kumat atau bisa juga karena aku yang telat makan. Sekarang sudah tanggal tua, budget sudah menipis nunggu gajian. sedangkan hari ini akutelah melakukan pekerjaanku semaksimal mungkin. Mendesain hiasan ruangan, MMT, poster, iklan, menata ruangan, membersihkan, menyeting dan merapikan ruangan kerja.Sepertinya harus ada sedikit waktu untuk istirahat, sejenak menenangkan diri. Terbayang-bayang di anganku wajah-wajah keluargaku yang berada dirumah. Timbul pertanyaan, apakah mereka disana dalam keadaan baik? Apakah mereka semua sudah makan? Ahh.., aku berpikir positif saja dan berdoa semoga mereka dalam keadaan yang sangat baik.

Selengkapnya...

16 Agustus 2008

Seuntai Kata Untuk Bidadari Cinta



“Dia itu sesosok perempuan yang baik, manis tapi disisi lain dia juga sosok wanita yang anggun. Sepintas dia terlihat mempesona yang kemudian akan memikat hati. Dia gadis impian semua pangeran.” Kata-kata itu terlontar dalam benakku ketika pertama kali aku melihatmu.

Ketika waktu terus berlalu ku coba untuk mendekatimu karena hati ini mungkin sudah terkena jeratan jaring asmara yang kau lempar lebar. Semangat hidupku mulai lahir kembali seketika aku mengenal dirimu. Semakin hari aku mulai memantapkan apa yang ada di dalam perasaanku, akhirnya dengan perasaan ragu tapi pasti ku coba mengetik kata demi kata pipet hapeku yang kemudian aku  kirimkan kenomor yang aku dapatkan dari teman. 

Selengkapnya...

08 Juli 2007

Seuntai Kata Untuk Bidadari Cinta

“Dia itu sesosok perempuan yang baik, manis tapi disisi lain dia juga sosok wanita yang anggun. Sepintas dia terlihat mempesona yang kemudian akan memikat hati. Dia gadis impian semua pangeran.” Kata-kata itu terlontar dalam benakku ketika pertama kali aku melihatmu.

Ketika waktu terus berlalu ku coba untuk mendekatimu karena hati ini mungkin sudah terkena jeratan jaring asmara yang kau lempar lebar. Semangat hidupku mulai lahir kembali seketika aku mengenal dirimu. Semakin hari aku mulai memantapkan apa yang ada di dalam perasaanku, akhirnya dengan perasaan ragu tapi pasti ku coba mengetik kata demi kata pipet hapeku yang kemudian aku  kirimkan kenomor yang aku dapatkan dari teman.
         Begitu senang dan bahagianya ketika satu pesan masuk dan ternyata itu balasan darimu. Kata-kata dalam smsmu selalu terngiang dalam pikiran. Walau sms sudah lama terhapus dari inbox hapeku aku masih ingat jelas kata-kata darimu
“Mas, kok gak bisa?apa kodenya salah? Oh ya,mas kok tahu nomorku dari mana?” kata-katamu itu mengawali langkahku. Setapak demi tapak dengan berat ku ayunkan kaki dengan harapan aku bisa mengenalmu lebih dekat. Entah ini sebuah perasaan yang muncul dari hati atau hanya sebuah obsesi aku juga tak tau pasti, yang aku tau aku ingin dekat denganmu.
Setiap kata-katamu mengantarkanku untuk melukiskan bayangmu ketika menjelang tidurku. Ketika sudah jam dua belas malam lewat masih kudengar tawamu yang renyah meski itu hanya lewat telepon. Tawamu menjadi satu hal yang bisa membuatku senang, yang lama sekali dalam hidup ini tak lagi ada satu hal pun yang bisa membuatku senang. Hari ini aku dapati. Sambil berjalan sendiri menyusuri malam yang sepi dengan telepon masih melekat di pipi sambil berbicara sendiri membuatku terlihat seperti pejabat yang berencana korupsi. Atau malah terlihat seperti orang gila yang berjalan tak tahu arah. Tentram hatiku ketika melihatmu bisa tertawa lepas dengan canda-canda dan tawa.
“Apabila hal itu bisa terjadi, pasti ada satu alasan yang logis ! Takdir…., nah makanya ada juga yang namanya Takdir Keliling…!!” celoteh itu aku lontarkan untuk menanggapi plesetan-plesetan lucu yang yang kerap kali kamu ucapkan.
Akhirnya aku gak tahu apa yang aku rasakan, entah setan mana yang merasukiku sampai seketika itu jempol jariku bergerak sendiri yang menuliskan kata-kata yang akhirnya merubah sikapmu padaku.
“Aku suka sama kamu, aku cinta kamu!”
Mungkin karena kata-kata itu semuanya jadi berubah. Apa karena aku terlalu terburu-buru atau karena hati kecilku yang berkata bahwa aku nggak pengen memilikimu. Egoisnya aku. Dan aku tidak tersadar bahwa dengan mengucapkan kata itu berarti aku harus siap kehilanganmu. Dan kata itu juga yang membuatmu merasa tidak nyaman lagi.
Apalagi semakin menyebarnya gosip tentang kita berdua yang dibilangin enggak-enggak di luar sana. Aku nggak tau kenapa mereka bisa berkata-kata seperti itu padahal kita saja jarang terlihat bareng. Kenapa mereka begitu mudahnya mengeluarkan gosip-gosip seperti itu. Apakah mereka digaji atau mendapat pahala yang besar dengan mengeluarkan gosip-gosip. Yang aku sadari, aku hidup dengan orang banyak dengan pemikiran dan pandangan yang berbeda. Jadi aku membiarkan saja dan aku tetap mengalir.
Hatiku sedikit turun ketika waktu itu kamu nyatakan kalau kamu tidak bisa menerimaku. Dan saat itu aku baru sadar satu hal yang tidak pernah terpikirkan dari awal aku memulai niatku. Memang perkataan-perkataan yang orang-orang lontarkan itu merubah sikapku, aku menjadi bukan diriku.
Gosip semakin menjadi ketika ada beberapa teman yang memergoki kita lagi pulang bareng. Dalam keadaan bis yang sesak aku masih berdiri mengayun kekanan dan kekiri karena goyangan bis yang seakan sedang berenang diatas arus ombak yang menerpa kapal. Sambil memandangi dirimu yang sibuk sendiri aku tetap melaju. Akhirnya sampai di terminal kita bisa mendapati bis yang kosong jadi kita bisa duduk.
Aku tau saat itu kamu pasti kecapekan sekali yang kulihat kamu sangat mengantuk dan kuniarkan dirimu tidur bersandar di pundakku yang keras karena hanya ada tulang yang dilapisi sedikit kulit. Sampai saatnya kamu terbangun akhirnya kita bisa ngobrol, becanda. Alangkah senangnya aku bisa melihat tertawa kembali seperti kemarin. Hingga akhirnya aku mengulangi sekali lagi apa yang aku katakan kemarin yang mungkin membuatmu ilfil sama aku.
“Aku akan menunggumu sampai kamu mau membuka hatimu.”
Seketika itu kau balas.
“sesungguhnya ku ingin dirimu tuk cairkan hatiku yang beku, tapi aku belum siap aku jadi dilema.” Kau ambil dari potongan lirik lagu Dilemanya Intan Nuraini.
Dan ku balas, lagu dari Once.
“Kau boleh acuhkan diriku, dan anggap ku tak ada. Tapi takkan merubah perasaanku Kepadamu.  Kuyakin pasti suatu saat. Semua kan terjadi, Kau kan mencintaiku. Dan tak akan pernah melepasku….”

Dua hari kemudian dengan perjalanan yang sengit karena jalan yang remuk dan terjal seperti kurang aspal dengan besarnya batu yang menggumpal akhirnya aku kembali kesini. Disini sambil mengisi sepi kuayunkan jari digitar dan walaupun jelek ketulskan lagu ni untukmu.

Bidadari Cinta

Intro : D A Bm F#m G A D 2x

*D                            A
 Matamu indah bagaikan mutiara
 C                      G
 Kau bidadari dari surga

 D                            A
 Senyummu manja sejuta pesona
 C                      G
 Kau bidadari dari surga

   A             F#m               D
**Kau buat sejuta indah jiwa
   A             F#m               D
   Kau cipta semesta sejuk jiwa
   A             F#m               A
   Kau bawa aku bahagia oo…

Reff : D        A          Bm     F#m          G                A           D
          Bidadari cintaku datanglah bersama senyum manismu
          D        A          Bm     F#m          G                A           D
          Duhai pujaan hatiku hadir dan hiasi indah hidupku
          D        A          Bm     F#m          G                A           D
          Bidadari cintaku datanglah bersama senyum manismu
          D        A          Bm     F#m          G                A           D
          Duhai pujaan hatiku hadir dan hiasi indah hidupku

Kembali ke: *
                    **
                    Reff
 Int: D A Bm F#m G A D 2x

D        A          Bm     F#m      G        A         D
Bidadari pujaanku aku jatuh cinta pada dirimu……..,

Saat itu mungkin aku belum menyadari arti cinta, ternyata aku telah memaksamu. Memaksakan perasaan cinta. Yang aku tau aku hanya ingin berjuang untuk membuka pintu hatimu. Atau mungkin di pandangan orang ini seperti serangan agresi militer belanda ke indonesia pada jaman penjajahan dulu. Sama sekali dalam benakku ini tidak ada niat untuk memakasamu, walau mungkin sebenarnya memaksa.
“Aku hanya ingin menunggu!” itu kata-kata dariku yang mungkin menjadi beban dalam hatimu. Tak heran kalau akhirnya kamu menjadi benci sama aku. Kesalahanku mungkin karena aku yang terlal mencintaimu, terlalu memujamu sehingga aku tidak mempedulikan apa yang kamu rasakan. Yang aku rasakan saat itu, aku merasa kesepian dengan keluargaku juga yang tidak mempedulikanku dengan yang tak pernah bisa kupercaya. Yang kupikirkan saat itu hanya kamu.
Aku salah, seharusnya aku sadar dan tidak mengambil persepsi seperti itu. Saat itu adik-adikku yang akhirnya datang menceramahiku, adik kelas yang peduli sama aku. Mereka memarahiku yang sedang dilanda frustasi. Saat itu aku baru tersadar bahwa didunia ini tidak seharusnya hanya kamu yang aku pikirkan. Aku masih punya keluarga dan teman-temanku yang selalu mempedulikanku.
“Mas, kalau kamu punya cewek kamu jadikan yang nomor berapa?”
Aku bingung menjawabnya. Sembari dia menjawabnya sendiri.
“Kalau aku yang ditanya seperti itu mas aku akan menjawab kalau dia itu ada di nomor empat. Yang pertama Allah, yang kedua keluarga, yang ketiga adalah sahabat dan yang keempat baru pacar ataupun orang spesial yang kita cintai.”
 Yang satu menambahkan.
“When you are in big problems don’t ever say : Allah I have a big problem ! But say : Hi problem I have a big Allah! And everything will be alright.”
Dua kata itu mungkin satu hal yang sepele yang sering diucapkan banyak orang. Tapi bagiku itu seperti pedang yang menusuk tepat di jantungku, yang menyadarkanku bahwa aku telah lalai. Semua yang aku lakukan terlampau berlebihan.
Dengan ketulusan hati dan kebaikanmu akhirnya kamu mau memaafkan kesalahanku yang mungkin sudah tidak sedikit aku menyakiti hatimu. Ketika itu hari minggu dengan sedikit terpaksa akhirnya kamu mau datang kesini. Kamu yang mengeluh sedih karena dicuekin dua sahabat kamu. Aku senantiasa mencoba untuk menenangkanmu, menghiburmu agar aku bisa kembali melihat senyum dan tawamu yang akhir-akhir ini jarang ku jumpai. Sebenarnya apa yang kamu rasain juga aku sudah merasakannya dan sepertinya aku juga mengetahui penyebabnya.
Akhirnya aku hanya bisa memberi saran agar kamu bisa lebih terbuka sama mereka. Memang kamu orangnya tipe yang tertutup, sama sepertiku. Mungkin itu yang membuat mereka merasa kurang dianggap. Mereka sahabat-sahabat kamu tapi mereka gak tau kamu. Aku hanya bisa menyarankan kamu untuk bisa lebih terbuka sama mereka.
“Kalau misalnya tidak ada yang pengen kamu ceritakan kamu bisa cerita tentang masalahmu sama aku. Ceritakan saja apa yang kamu rasakan saat ini. Semoga saja dengan ini mereka bisa kembali seperti dulu lagi.”
Yang masih membayangi angan-anganku, yang menjadi pikiranku ketika balasan sms darimu masuk.
“Mas, aku memang masih ragu. Tapi bukan meragukan cintamu padaku! Tapi aku nggak yakin dengan perjalanan cintaku yang tanpa ujung. Aku juga manusia yang butuh cinta, tapi aku nggak tau apa ini perasaan cinta atau hanya simpati.”
Walaupun sms itu sudah lama kali kamu hapus tapi kata-kata itu masih saja terngiang di telingaku seperti suara nyamuk yang mengganggu tidurku. Dari kata itu ada dua hal yang menjadi pilihanku. Yang pertama, itu menjadi semangatku karena aku merasa mempunyai harapan. Tapi kesalahanku adalah ketika aku meminta harapan padamu yang seharusnya tidak perlu aku lontarkan kata-kata yang akhirnya membebanimu. Yang kedua, harusnya aku membiarkan mengalir apa adanya hingga rasa yang ada dihati kamu itu menjadi matang. Namun pemikiran negatifku juga bicara, mungkin saja kata-kata itu keluar hanya untuk meredam niatku yang ingin memaksamu.
Hingga akhirnya malam itu kuajak kamu untuk jalan-jalan menikmati malam. Cuaca yang sangat mendukung dengan cahaya terang rembulan yang dihiasi kerlap-kerlip bintang yang seakan mengedipkan matanya kepadaku memberi tanda kalau malam iu dia mendukungku. Melewati jalan tanjakan naik-turun aku tetap melaju. Terkadang gentian kamu yang ada di depan. Belokan taman kuhentikan motor kuajak kamu untuk duduk bersandar sambil memandangi lampu kota yang kerlipnya hampir menyerupai bintang malam itu. Saat itu pertama kalinya aku merasakan bahagia selama dua tahun ini yang tak kurasakan lagi. Ingin sekali aku berdoa agar malam itu jangan cepat-cepat berlalu.
Untuk kesekian kalinya aku melakukan kesalahan lagi. Malam itu tiba-tiba saja aku mengungkit masalah yang kemarin, dan aku memaksamu. Aku benar-benar mengacaukan malam itu. Aku hancur karena kecerobohanku sendiri. Malam itu mungkin puncak kemarahanmu padaku. Pasti malam itu kadar benci dan sebel yang ada dalam diri kamu kian menebal hingga menutupi pandanganmu sampai-sampai tidak menghiraukan dan mempedulikan apa yang segala yang aku ucapkan. Aku memang seorang lelaki yang bodoh, aku sama sekali nggak bisa bersikap halus dengan seorang cewek, aku nggak bisa membaca setiap tanda-tanda yang diberikan cewek, aku nggak bisa memahami. Selama ini memang tidak ada seorangpun yang mengajariku tentang apa itu cinta, aku nggak bisa bermain cinta.
Hari ke hari kamu masih saja mendiamkanku, bahkan telpon dariku kamu kasihkan sama temen cowok kamu untuk menjawabnya. Tidak satupun sms yang aku kirim kamu balas. Entah nggak ada pulsa atau memang nggak ada nafsu untuk membalasnya. Malam hari aku telepon dan aku minta maaf untuk kesekian kalinya.
Beberapa hari kemudian suasana tampak mereda, tapi kamu masih diam. Walaupun gossip sudah mulai punah musnah tapi kamu tetap saja mendiamkanku. Karena kegelisahan hatiku yang tak terbendung, malam itu jam setengah dua belas malam aku menelponmu.  Dan seperti yang kuduga akhirnya kita kembali berantem. Aku berusaha menjelaskan apapun, tapi sayangnya kamu sudah terlanjur nggak percaya lagi padaku dan nggak mau lagi percaya. Mungkin semua memang salahku yang tak bisa memahamimu. Tapi aku bertanya-tanya kenapa setiap yang aku katakan, yang aku tawarkan pasrti kamu artikan bahwa aku memaksaku. Apa mungkin kata-kata itu muncul karena sama sekali sudah menghilang rasa simpatimu.
Kamu memintaku kita supaya menjadi temen biasa, benar-benar biasa. Bahkan aku yang meminta posisi sebelum kita ada masalah kamu nggak mau.  Aku tidak bisa berkata apa-apa. Suasana menjadi hening tanpa kata yang terucap dariku maupun darimu. Saat itu kamu juga terdiam, aku tidak tau apa yang kamu lakukan saat itu.
Aku gagal.
Aku hancur.
Aku kejam.
Aku……..
Saat itu benar-benar hancur. Akhirnya dengan berat hati kucoba untuk mengikhlaskan perasaanku. Bahwa kamu memang bukan takdirku.
Kalau itu memang yang kamu inginkan dan bisa membuatmu bahagia, aku tidak akan memaksa. Tapi tolong dengarkan sedikit kata-kata dariku ini.
Aku akan pergi, aku akan melepasmu, meninggalkanmu tapi aku tidak ingin meninggalkan luka di hatimu. Jadi tolong maafin aku. Aku yang sering membuakmu marah, aku yang pernah memaksamu, aku yang sering membebanimu, aku yang kerap kali membuatmu menangis. Maafkan aku. Untuk terakhir kalinya aku pengen bilang kalau aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu.
Aku mencintaimu tapi aku tidak tau cara mencintaimu.
Kamu telah mengajarkan banyak hal, kamu telah memberikan arti.
Selamat tinggal Bidadari Cinta……

Aku tidak akan perbah melupakan senyummu !

Sekarang kamu sudah boleh menghapus memoriku, dan apapun tentang diriku. Diriku yang telah menyakitimu. Maafkan aku.
Kalau diijinkan hidup sekali lagi ingin sekali aku bisa hidup bersamamu dan memahamimu.
Ini bukan puisi, bukan syair , bukan prosa. Ini hanyalah sedikit perasaanku yang mengalir.


NB:
Jika kita mencintai seseorang hendaknya jangan terlalu meninggikan di atas segalanya. Karena semakin kamu mencintainya, maka akan semakin sakit pula jika suatu saat tersakiti.
Selengkapnya...

Blog Portofolione [◣_◢] Yoni Ahmad |

[◣_◢] WELCOME |

    Email : blog@yoniahmad.co.cc

ARSIP BLOG

    www.yoniahmad.co.cc

Menu Utama

LOGIN | SEARCH

DOWNLOAD EBOOK

IMAGE RESOURCES

MY BLOG

 

Your Links

www.yoniahmad.co.cc
go to my homepage
..:: Klik gambar mlebet blog ::..
Copyright@sastra-jawa007