rss

06 September 2010

SERIGALA MERAH



 Oleh : Yoni Ahmad

Duarrrrrrr………… Suara tembakan ke langit oleh polisi itu membuat poyang-payingan para demonstran. Seperti seember beras yang jatuh ke jalanan, berceceran tak beraturan. Tak bisa dihindari adanya kejar-kejaran antara polisi dengan mahasiswa-mahasiswa gabungan dari berbagai universitas. Tak kuasa menahan emosinya, beberapa polisi melambungkan pentungan ke tubuh dan kepala para demonstran. Suasana ricuh mewarnai aksi demonstrasi yang menuntut pencalonan Dewan Daerah. Demonstran tak mau kalah, mereka memungut apa saja yang bisa diraih dengan tangannya seraya melemparnya dengan target para polisi bertameng.
“Bersihkan pemerintahan dari kecurangan, hancurkan ketidak jujuran!”
“Tegakkan keadilan…!”
“Bunuh sampai ke akar-akarnya!”
Demonstran menuntut  salah seorang calon yang diduga melakukan ketidak jujuran dalam pemilihan. Mereka menyebut-nyebut nama Hari Bangun sebagai calon yang curang. Namun kecurangan itu sendiri masih rancu kebenarannya. Para demonstran tidak punya bukti maupun saksi. Hanya berdasarkan sumber yang mereka percaya yang mengatakan bahwa Hari Bangun telah curang. Dia memanipulasi data dengan membayar orang untuk memberikan hak suara lebih dari 200 lembar. Selain itu Bangun juga diduga menyalahgunakan uang rakyat. Dihambur-hamburkan untuk sekadar memajang foto-foto wajahnya di sepanjang jalan, pepohonan, kendaraan umum, bahkan di toilet.
Tak lama proses kejar-kejaran, akhirnya kemenangan diperoleh pihak polisi yang jelas menang dalam jumlah dan persenjataan. Puluhan mahasiswa diamankan dan beberapa diantaranya yang dianggap provokator di bawa masuk ke dalam ruang interogasi.
“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya salah satu polisi.
“Kami berjuang atas nama keadilan!” jawab Ratno, salah satu aktivis dari universitas terkemuka di Semarang.
“Kenapa kalian membuat ricuh?”
“Kami hanya ingin suara kami didengar, kami ingin menemukan kebenaran.” jawab budi, mahasiswa universitas lain.
“Kalian tahu kesalahan kalian?”
“Kami tidak tahu, karena kami tidak salah!”
“Kalian berteriak, kalian membuat kericuhan, membuat keonaran. Menambah kerjaan tim keamanan saja. Masih banyak hal yang lebih penting yang harus kami tangani. Tahukah kalian, dengan kalian berteriak, berseru, membuat kericuhan, apa kamu yakin suara kamu itu akan didengar? Apa kamu yakin suara kamu itu sampai ke tujuannya. Itu hanya seperti kentut, menusuk di depan yang kemudian hilang dengan cepatnya.”
“Tak didengar tak apa, tak digubris tak masalah. Selama suara kami belum didengar selama itu pula kami akan berteriak. Kami akan tetap berjuang, setidaknya kamu sudah berusaha. Memang banyak hal yang lebih penting yang harus ditangani tim keamanan. Kalau begitu kenapa anda-anda membawa kami kesini. Lebih cerdas lagi jika kamu menangkap orang-orang yang melakukan kecurangan. Kalian menjalankan tugas, kamipun tak akan lagi berteriak.”
“Kalian pikir menegakkan hukum semudah ucap kata-kata yang kalian lontarkan apa?”
Hampir sehari semalam 5 mahasiswa yang diduga provokator itu di interogasi dalam ruang gelap tanpa jendela, hanya sedikit angin yang masuk melewati celah ventilasi. Walau sedikit angin itu sudah cukup menyegarkan hati para demonstran dan polisi. Beberapa saat kemudian perdebatan pun mereda. Polisi melepaskan para mahasiswa itu. Memberikan peringatan, juga memberikan syarat dan isyarat.
Ratno Kasmuji adalah salah satu mahasiswa semester akhir yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Namun karena jiwa patriotismenya dia ingin mencari keadilan. Pemuda dengan kulit yang agak hitam, bisa dibilang cukup tinggi dan kekar. Pantas saja dia tidak takut dengan polisi, tubuhnya tidak kalah besar. Ratno dan tim gabungannya yang dibentuk dari berbagai mahasiswa beberapa universitas, kerapkali melakukan diskusi dan rapat mengenai keadaan politik ekonomi negeri ini. Pria yang sering dipanggil Grandong ini ingin menegakkan keadilan bersama timnya.
Sesampainya di kos-kosan, Ratno langsung terkapar di atas kasur. Dengan almamater masih melekat di tubuh, basah keringat membau kesana-kemari. Spanduk dan poster menimbuni kaki dengan celana jinsnya. Sementara di samping bawah kasur tergeletak sosok hitam pekat telanjang dada memakai boxer. Bakri namanya. Dia temen deket dan juga satu tim dengan Ratno. Suara dengkurnya menggertak seperti suara traktor yang sedang membajak lahan tandus, menggelegar. Namun itu juga tak mengganggu ketenangan tidur Si Grandong, Ratno.
Krriiiinnggg……………. Terdengar suara dering handphone Ratno. Handphone jadul dengan antena panjang yang khas itu memang Hp kesayangan Ratno. Bisa dibilang, jangankan suara petir, banjirpun tidak akan membangunkan tidur mereka. Terbiasa ketika capek mereka seperti beruang kutub yang sedang hibernasi. Setelah 15 kali berdering, akhirnya Ratno terbangun dari tidurnya.
“Ayo bangun….., katanya mau bimbingan? Ayo bangun!” suara cewek terdengar dari handphone.
“Haduh…, iya. Jam berapa sekarang?”
“Sudah jam 11 siang. Ayo bangun!”
Suara cewek itu suara Susi, kekasih Ratno. Dia selalu setia menemani dan mencintai Ratno dengan apa adanya. Susi dan Ratno satu keanggotaan dalam organisasi BEM Universitas. Ratni adalah koordinator divisi humas dan advokasi sedang Susi menjabat sebagai bendahara. Meski mereka terjebak cinta lokasi namun mereka tetap bisa profesional. Mereka bisa menempatakan diri dalam situasi dan kondisi yang tepat. Selain itu Ratno juga disegani anggota BEM yang lain karena dia merupakan sosok yang tegas, cerdas juga bijaksana.
Setelah lebih dari setengah jam mengantri mandi akhirnya Ratno dapat giliran juga untuk membersihkan diri. Almamater dan celana sisa demonstrasi kemarin dilemparnya bersama baju-baju kotor lainnya yang sudah menumpuk di ember. Karena mempersiapkan demonstrasi membuatnya tidak sempat untuk sekadar mencuci baju. Baju yang sudah menumpuk dua minggu itu senatiasa menghiasi pokok ruang belakang koskosannya. Dengan menghilangnya suara gemericik air hilang pula keberadaan Ratno. Dia segera beranjak pergi ke kampus.
“Pagi pak, gimana laporan skripsi saya yang kemarin?” tanya Ratno kepada pembimbing I.
“Sudah bagus, sudah sempurna. Kamu langsung saja daftar ujian, tapi konfirmasi dulu ke pembimbing II minta ACC. Skripsi kamu sudah sempurna!.” jawab dosen pembimbing I.
Tanpa berlama-lama dia langsung meluncur ke dosen pembimbing II. Meskipun dosen yang ini terkenal agak sulit tapi dia seorang profesional dan objektif. Menjelang setengah dua belas dia masih mondar-mandir mencari dosbing II. Tak terasa sudah jam istirahat. Ratno terdampar di atas kursi panjang depan ruang jurasan. Dengan nafas yang bertempo tiga perempat itu dia berusaha meredakan kecapekannya. Dengan sedikit menghela nafas panjang dia sudah sedikit merasa lega.
Seketika itu dia terbelalak, kaget, gugup, bercampur takut. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya dari orang yang berjalan dua puluh meter menuju ruang jurusan. Jalannya yang tegap dengan langkah kaki yang teratur. Suara langkah dari sepatu fantovel bersahutan. Seketika berhenti di depan ruang jurusan. Dia salah satu peserta yang mencalonkan diri sebagai dewan daerah. Benar saja yang Ratno lihat itu adalah Hari Bangun, calon yang dia protes tempo hari. Memang ketika di kampus, Ratno kerapkali menghindari pertemuan atau pun perpapasan dengan dosen yang ingin jadi pejabat itu. Tak berapa lama Hari Bangun berdiri di depan pintu ia masuk kedalam. Setelah membuka beberapa lembar helai buku kemudian menutupnya lagi.
“Har, baca nih! Ada berita bagus banget. Mahasiswa melakukan demonstrasi di depan gedung dewan. Dan berakhir ricuh, polisi mengamankan lima mahasiswa yang diduga provokator.” Ucap salah satu teman dosen yang duduk di sebelah bangku Hari Bangun.
Perlahan tapi pasti Hari Bangun mengangkat koran itu kemudian membacanya. Belum selesai membaca judul berita ia terbelalak melototkan matanya. Jelas sekali foto berita yang menjadi headline itu terpampang foto mahasiswa yang ia rasa cukup kenal, Ratno Kasmuji Mahasiswa Jurusan Hukum semester akhir. Belum sempat membaca isi berita, ia melempar koran itu kembali ketas meja. Jidat yang mengkerut dengan jari menempel di kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia tidak melepaskan nama Ratno meski untuk waktu yang sebentar. Bayang-bayang mahasiswa hitam itu selalu mengganggu pikirnya.
“Hemmm…….., Ratno ternyata !” gumamnya dalam hati.
Setelah merasa cukup istirahat dan bebarengan juga dengan jam istirahat yang telah habis, Ratno kembali ingin mencari dosbing II. Tak disangka, tak diduga orang yang dinanti pun tepat sekali datangnya. Ratno mengikuti langkah dosbing II ke ruang kerjanya.
“Gimana Pak, skripsi saya?”
“Bagus, hanya sedikit perlu diperjelas pada bab II dan bab IV. Sisanya sudah bagus. Kamu sudah bisa daftar ujian skripsi!”
“Benarkah Pak? Terima Kasih.”
Dengan riangnya Ratno berjingkrak. Seakan angin segar menerpa jiwanya. Kesejukan yang dirasakannya sungguh tiada terkira. Panas sinar mentari jam satu siang tak dirasakannya, tetap saja ia hanya merasakan angin yang sejuk. Segera saja ia pegergi menemui kekasihnya, Susi. Untuk memberitahukan berita bahagia ini. Diambilnya motornya di parkiran segera menuju kos-kosan Susi.
“Sus, kamu tahu nggak?” tanya Ratno
“Apa sih?” Susi balik nanya.
“Aku sudah bisa daftar ujian, skripsiku sudah rampung!”
“Bagus donk!”
“Iya, tolong bantu aku mempersiapkan segalanya y?”
“Beres Boss!”
Mendengar kabar itu, Susi pun ikut merasa senang. Kekasihnya akhirnya lulus juga. Sehari semalaman mereka sibuk mempersiapkan pendaftaran ujian skripsi. Suara gesekan catridge printer dengan kertas yang berjalan mengikuti roll yang menggulungnya memenuhi kamarnya. Diiringi lagu Pop yang dibawakan oleh Sheila on 7, band favorit Ratno. Serta diselingi suara dengkur si Bakri yang biasa tidur hanya memakai celana boxer.
Keesokannya Ratno sudah siap segalanya. Karena kondisi sekarang sudah fit, ditambah suasana hati yang senang kali ini ia bangun lebih dulu dari mentari timur. Dengan gaya meledek ia memandangi mentari pagi yang kali ini terlambat datang. Setelah puas menikmati segarnya aroma pagi ia segera saja beranjak menuju kampus. Tak lupa menjemput kekasihnya. Ditemani Susi seharian ia mengurus pendaftaran ujian skripsi. Tersentak, tergetak, detak jantung yang awalnya ada seketika terhenti ketika ia mengetahui dosen pengujinya adalan Hari Bangun. Dosen yang ia protes keras, dosen yang menjadi musuh bebuyutannya. Hampir saja dia pingsan. Tetapi dia menghela nafas panjang berusaha menenangkan diri.
“Aku tidak boleh menyerah! Aku harus bisa” gumamnya dalam hati.
Sampai hari yang dinanti pun telah tiba. Dengan diantar sang kekasih yang tercinta, Ratno meyakinkan dirinya untuk bisa mengalahkan semua ini. Perlahan tapi pasti ia memasuki ruang ujian skripsi. Rasa grogi bercampur gugup berputar-putar di dada dan pikirannya. Kali ini yang dia lawan bukanlah seorang calon pejabat yang curang, namun seorang dosen penguji.
Ratno sesekali menatap Hari Bangun. Hari tersenyum ramah. Dengan sikap yang bijak ia melontarkan beberapa pertanyaan ke Ratno. Ratno menanggapinya dengan sigap Ratno menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh dosen-dosen penguji.
“Setelah mengingat dan menimbang laporan skripsi kamu dan prosesi ujian skripsi hari ini maka dengan ini kami menyatakan…”
Seketika suasana menjadi tegang.
“Anda lulus…!”
Bahagia sekali perasaan Ratno saat itu. Tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua panitia ujian skripsi. Keluar dari ruangan ia langsung mendekap Kekasih hatinya dan memeritahukan kabar itu.
***
Setelah merevisi skripsinya, Ratno ingin cepat-cepat mendaftar wisuda. Namun apa yang terjadi, nila skripsinya belum keluar. Beberapa kali ia menemui Hari Bangun. Akan tetapi pertemuan-pertemuan kali ini tidak seperti ketika ujian skripsi. Wajah yang ia pasang adalah wajah kusut dengan seyum yang berat sebelah. Ia baru sadar ternyata seyuman yang saat itu hanya topeng untuk menutupi kebusukan hatinya. Beberapa kali ia mendatangi dosen itu dengan memohon, namun hasilnya tetap nihil. Sungguh orang yang licik. Sungguh pemikiran yang tidak dewasa. Mencampurkan urusan pribadi dengan urusan perkuliahan. Ratno merasakan kesakitan yang mendalam. Orang melakukan ini benar-benar kelewat kejam. Cakarnya membelah dada robek hingga ke dalam perut.
Hari berganti hari, minggu berlalu, bulan pun terlewati tak ada perubahan keputusan dari calon pejabat curang Hari Bangun. Dia masih tetap menahan nilai Ratno. Tak terasa penantiannya sudah dua tahun. Sekali lagi ia berusaha memohon kepada Dosen Hari. Namun seperti hari kemarin ia mengacuhkannya begitu saya. Mentelantarkannya seperti sampah. Akhirnya Ratno Kasmuji, aktivis yang berusaha mencari keadilan membuang harapannya jauh-jauh. Tenggelam dalam keterpurukan. Larut dalam kesedihan.
Saat ini dia hanya punya satu upaya dan satu harapan. Berupaya untuk ikhlas. Berharap semua ini ada yang membalas. Agar seseorang itu juga bisa merasakan rasa sakit.

2 komentar:

Archer on 29 Desember 2010 pukul 12.38 mengatakan...

Wah..., gak profesional!

Archer on 29 Desember 2010 pukul 12.39 mengatakan...

Mencampurkan urusan pribadi dengan akademik....


Posting Komentar

Blog Portofolione [◣_◢] Yoni Ahmad |

[◣_◢] WELCOME |

    PERUBAHAN ITU PERLU

    Email : blog@yoniahmad.co.cc

ARSIP BLOG

    www.yoniahmad.co.cc

Menu Utama

LOGIN | SEARCH

DOWNLOAD EBOOK

IMAGE RESOURCES

MY BLOG

 

Your Links

www.yoniahmad.co.cc
go to my homepage
..:: Klik gambar mlebet blog ::..
Copyright@sastra-jawa007